Selasa, 23 Februari 2010

Pupusnya Masa Kejayaan Gurame Sukaratu

MEMANG beberapa puluh tahun silam, Gurame Sukaratu sempat terkenal ke seantero tanah air. Bahkan Sukaratu atau wilayah galunggung dikenal sebagai penghasil ikan Gurame terbesar di Indonesia. Sekitar 65 persen kebutuhan ikan Jawa Barat dipasok dari wilayah Sukaratu. Sampai-sampai di wilayah Galunggung tepatnya Rancapaku dibangun Pusat Pelatihan Nasional Budi Daya Ikan Gurame, hingga dikenal dengan sistem pemijahan rancapaku yang dipelajari di seluruh negeri.
Bahkan di sekitar kawasan Galunggung, puluhan tahun silam, banyak para petani Gurame yang berhasil hingga mampu melaksanakan ibadah haji ke tanah suci hasil dari budi daya gurame. Atau kerap dikenal dengan "haji gurame".
Namun, kini hal itu tinggal kenangan. Rancapaku atau wilayah Galunggung mengalami perubahan. Gurame yang sempat terkenal kini kalah pamor oleh gurame dari daerah lain.
Ade Wardaya, salah seorang Petani ikan Sukaratu mengakui kalau Gurame Sukaratu sempat melegenda. Apalagi ia termasuk salah satu keturunan dari petani gurame "baheula"
Kakeknya, Aki Sugita (alm) adalah salah seorang pemasok gurame Sukaratu ke luar daerah. Bahkan ia mampu memasarkan gurame hingga Purwokerto, Jakarta, Bandung, Sukabumi Jatiluhur, Subang, Ciamis juga daerah lainnya.
"Gurame Sukaratu kapungkur mah terkenal pisan. Malihan seueur nu naek haji alatan tina usaha gurame," ucap Ade.
Dijelaskan, dalam memasarkan gurame, kakeknya kerap memanfaatkan jasa kereta api. Membawa ikannya pun dengan menggunakan "teplak" wadah ikan yang dibuat dari anyaman bambu yang dicor menggunakan ter atau aspal.
Penunjang utama Sukaratu menjadi sentra ikan gurame saat itu adalah kondisi air yang masih sangat bersih belum tercemar, juga kondisi kolam yang memang cukup luas yang sering disebut dengan situ. Sehingga gurame dengan mudah bisa berkembang biak secara alami tanpa harus melalui perawatan yang intensif.
"Kondisi ayeuna mah tos langki tiasa sapertos baheula," ucapnya.
Petani gurame lainnya, H. Jaja (58), mengaku kesulitan dalam mengembangbiakan gurame di wilayahnya karena keterbatasan lahan. Ia kini hanya menjual telurnya saja kepada pihak lain tanpa bisa membesarkan ikan terlebih dahulu.
"Nya kumaha deui da lahan na teu aya. Janten seseringna mah ngical endog dina sayang. rata-rata bapa ngical sasayang teh Rp 125 rebu," ucap Jaja di rumahnya, Minggu (21/2) kemarin.
Ia mengakui, menjual telur jelas rugi jika dibanding dengan menjual anak ikan. "Pami ngical anak mah dua sayang sok kenging kana sajutana. Cobi ngical sayang, hoyong kenging sajuta teh kedah genep dugika tujuh sayang," katanya.
Namun apa boleh buat, keterbatasan lahan menjadi kendalanya. Kini ia hanya memiliki kolam seluas 54 bata yang ditanami 60 bibit ikan gurame, di antaranya 50 bibit jantan dan 15 bibit betina.
Dengan jumlah tersebut, hampir tiap hari ia bisa menjual telur gurame pada orang lain, karena tiap gurame bias bertelur dalam jangka waktu tiga bulan sekali. Dan kadang-kadang tiga bulan itu dua kali.
"Pami gaduh modal mah jelas untung keneh ngical anak dibanding ngical endog. Tapi da kedah kumaha kieu buktosna," tegasnya.
Kondisi gurame Sukaratu memang seperti itu. Akankah gurame Sukaratu kembali melegenda seperti puluhan tahun silam, atau dibiarkan tenggelam menjadi cerita lama? Itu semuanya tergantung pada sentuhan pemerintah, sejauh mana keseungguhannya dalam mengembalikan kejayaan gurame yang jelas-jelas telah menjadi ikon Tasikmalaya.***
(Diambil dari Harian Umum Priangan, Edisi 22 Pebruari 2010, dengan penambahan gambar)

Minggu, 07 Februari 2010

Telah Hadir, POMI Tasikmalaya

Telah hadir di Kota Tasikmalaya!!!

PUSAT OLEH-OLEH MASAKAN IKAN (POMI)
KOTA TASIKMALAYA

UNTUK warga Kota Tasikmalaya dan sekitarnya yang memerlukan oleh-oleh masakan ikan, kini telah hadir PUSAT OLEH-OLEH MASAKAN IKAN (POMI), dengan alamat di Kios No. 2, Kompleks Depo Pasar Ikan, Sukarindik, Jl. Letnan Harun Kota Tasikmalaya. Telp 0265- 911 6660 atau 085 221 803 065


Menyediakan Aneka Masakan Ikan:

- Pepes
- Pindang
- Ikan Bakar Bumbu Kecap, Acar, Cobek
- Dendeng Ikan
- Goreng Burayak
- Goreng Burayak Tepung
- Ikan Goreng Kering
- Ikan Goreng Acar
- Kerupuk Ikan
- Aneka Makanan Olahan Ikan
- Dll

Alamat: Kios No. 2 Kompleks Depo Pasar Ikan, Sukarindik, Jl. Letnan Harun Kota Tasikmalaya. Telp. 0265 - 911 6660 atau 085 221 80 30 65

Tersedia kemasan dus dan besek. Harga terjangkau.

Untuk menjamin rasa dan kualitas, kami hanya menggunakan ikan lokal.

Keterangan harga

Pepes Ikan Mas
Ukuran Berat 0,3-o,4 kg Rp 20.000
Ukuran Berat 0,5 kg Rp 25.000
Ukuran Berat 1 kg Rp 35.000

Pepes Ikan Gurame
Ukuran Berat 0,5 kg Rp 30.000
Ukuran Berat 1 kg Rp 50.000

Pindang Ikan Mas
Ukuran Berat 0,3-0,4 kg Rp 12.500
Ukuran Berat 0,5 kg Rp 17.500

Pindang Ikan Nilem (Diusahakan Nilem yang Sedang Bertelur)
Rata-rata harga antara Rp 4.000-5.000/ekor, tergantung ukuran ikan

Patin Leumeung (Dibakar dalam Bambu)
Ukuran Berat 0,5 kg Rp 30.000
Ukuran Berat 1 kg Rp 50.000

Keterangan: Harga sewaktu-waktu bisa berubah


UNTUK kelengkapan oleh-oleh Anda, kami sediakan juga oleh-oleh khas Tasikmalaya lainnya: Kerupuk Ikan khas POMI, Opak dan Rengginang, Kolontong, Teh Kampung (tersedia pakang dan daun), serta lainnya. Insya Allah dengan oleh-oleh yang kami tawarkan membuat orang yang menerima oleh-oleh tersebut akan terkesan...

Pemesanan dari luar kota bisa dikirim melalui paket dan transfer pembelian melalui nomor rekening 0527025564 Bank Syariah Mandiri Cabang Kota Tasikmalaya, atas nama M. Ridwan

Jumat, 05 Februari 2010

Kelompok Bina Mekar Wakili Tasikmalaya Pada Lomba Budidaya Ikan Nasional

SETELAH melalui proses seleksi, akhirnya Kelompok Budidaya Ikan “Bina Mekar” dari Desa Ciawang, Kecamatan Leuwisari akan mengikuti lomba budidaya ikan tingkat Provinsi Jawa Barat mewakili Kabupaten Tasikmalaya hari ini, Selasa (8/12).

“Adapun jenis ikan yang menjadi andalan anggota Kelompok Bina Mekar, yakni ikan nila ‘ninja’ yang merupakan hasil persilangan ikan nila gesit (genetically supermale Indonesian tilapia) dengan ikan nila nirwana (nila ras wanayasa),” jelas Mustofa Gandasasmita, staf Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan (DPK) Kabupaten Tasikmalaya.

Ketua Kelompok Bina Mekar, Wahyu Setiawan mengatakan, bahwa keikutsertaan dalam lomba budidaya ikan tidak lepas dari prestasi kelompoknya dalam menerapkan teknologi budidaya, seperti budidaya ikan nila ‘ninja’ jantan.

“Selama ini, kelompok kami telah berhasil melakukan persilangan antara ikan nila gesit dengan nila nirwana. Hasil persilangan keduanya menghasilkan nila monosex jantan yang diberi nama oleh kami dengan sebutan ‘ninja’ atau kepanjangan dari nila jantan, yang hasil keturunannya 98 persen jantan,” ungkap Wahyu Setiawan.

Ikan nila ‘ninja’ hasil persilangan dari kedua benih unggulan tersebut memberikan keuntungan yang lebih, lanjut Wahyu, selain ukurannya yang berbanding 1:1,5 lebih besar dari betina. “Dalam waktu 6 bulan, ikan ninja ini dapat mempunyai bobot hingga 8 ons, dan pada ukuran tersebut merupakan ikan yang disebar untuk diperjual-belikan atau siap konsumsi,” tuturnya.*** (Diambil dari "Sinar Tani Online")

Kamis, 04 Februari 2010

Ikan Air Tawar Kaya Protein dan Vitamin

KANDUNGAN gizi ikan air tawar cukup tinggi dan hampir sama dengan ikan air laut, sehingga dianjurkan untuk dikonsumsi dalam jumlah cukup. Tingginya kandungan protein dan vitamin membuat ikan yang mudah dibudi dayakan ini sangat membantu pertumbuhan anak-anak balita.

Dibandingkan dengan negara-negara lain, konsumsi ikan per kapita per tahun di Indonesia saat ini masih tergolong rendah, yaitu 19,14 kg. Hal ini sangat disayangkan, terutama mengingat betapa besar peranan gizi ikan bagi kesehatan. Untuk mengatasi masalah rendahnya konsumsi ikan laut akibat harganya yang relatif mahal, perlu upaya pengembangan ikan air tawar.

Sebagai bahan pangan, ikan merupakan sumber protein, lemak, vitamin, dan mineral yang sangat baik dan prospektif. Keunggulan utama protein ikan dibandingkan dengan produk lainnya adalah kelengkapan komposisi asam amino dan kemudahannya untuk dicerna. Mengingat besarnya peranan gizi bagi kesehatan, ikan merupakan pilihan tepat untuk diet di masa yang akan datang.

Ikan dapat digolongkan menjadi tiga bagian, yaitu ikan air laut, air tawar, dan air payau atau tambak. Ikan yang hidup di air tawar dan air laut sangat banyak, sehingga dibedakan menjadi golongan yang dapat dikonsumsi dan ikan hias.

Lingkungan hidup ikan air tawar adalah sungai, danau, kolam, sawah, atau rawa. Jenis ikan air tawar yang umum dikonsumsi adalah sidat, belut, gurame, lele, mas, nila merah, tawes, karper, nilem, tambakan, sepat siam, mujair, gabus, toman, betok, jambal, dan jelawat.

Budi Daya Air Tawar
Keberhasilan usaha perikanan air tawar ditentukan oleh faktor lingkungan. Tanah liat atau lempung sangat baik untuk pembuatan kolam. Demikian pula untuk tanah beranjangan atau terapan dengan kandungan liatnya 30 persen.

Kedua jenis tanah tersebut dapat menahan massa air yang besar dan tidak bocor. Faktor lingkungan dapat berpengaruh terhadap cita rasa ikan, misalnya bau tanah atau lumpur.

Hal lain yang sangat penting diperhatikan dalam budi daya ikan air tawar adalah mutu air. Sumber air bisa berasal dari air sungai, hujan, atau tanah. Mutu air yang diperlukan untuk budi daya ikan air tawar haruslah memenuhi beberapa persyaratan berikut: oksigen terlarut sekitar 5-6 ppm, karbondioksida terlarut kurang dari 25 ppm, pH antara 6,7-8,6, suhu 25-30oC dengan perbedaan suhu antara siang dan malam tidak lebih dari 5oC, serta tidak tercemar bahan kimia beracun, minyak, atau limbah pabrik.

Air yang terlalu keruh tidak baik untuk kehidupan ikan karena endapan lumpurnya terlalu tebal dan pekat, sehingga dapat mengganggu penglihatan ikan dalam air dan menyebabkan nafsu makannya berkurang. Semakin banyak dan beragam biota air yang terdapat di dalam perairan, semakin tinggi tingkat kesuburannya.

Budi daya ikan air tawar lebih mudah dibandingkan dengan ikan air laut. Sebagai contoh budi daya ikan mas sangat mudah sekali dilakukan karena toleransi terhadap lingkungan sangat tinggi. Meski demikian, dalam kenyataannya perkembangan ketersediaan dan konsumsi ikan air laut lebih besar daripada ikan air tawar.

Kendala utama budi daya ikan air tawar adalah diperlukan waktu dan biaya yang cukup tinggi. Komponen biaya meliputi: persiapan kolam, pemilihan induk, pemijahan, penetasan, dan pendederan. Biaya lain yang dianggap cukup tinggi adalah untuk pakan dan pemeliharaan terhadap hama dan penyakit ikan.

Penyimpanan Segar
Ikan air tawar umumnya diperdagangkan dalam keadaan masih hidup. Hal ini sangat menguntungkan karena mutunya masih sangat terjaga baik. Dengan alasan kepraktisan, banyak orang membeli ikan air tawar dalam jumlah banyak dan menyimpannya di rumah untuk berbagai keperluan.

Namun, ikan merupakan bahan pangan yang sangat mudah mengalami kerusakan. Berbagai jenis bakteri dapat menguraikan komponen gizi ikan menjadi senyawa-senyawa berbau busuk dan anyir, seperti indol, skatol, H2S, merkaptan, dan lain-lain. Beberapa bakteri patogen (penyebab penyakit), seperti Salmonella, Vibrio, dan Clostridium, sering mencemari produk perikanan.

Beberapa faktor penyebab kerusakan ikan air tawar adalah:

1. Kadar air cukup tinggi (70-80 persen dari berat daging) yang menyebabkan mikroorganisme mudah tumbuh dan berkembang biak.

2. Secara alami, ikan mengandung enzim yang dapat menguraikan protein menjadi putresin, isobutilamin, kadaverin, dan lain-lain, yang menyebabkan timbulnya bau tidak sedap.

3. Lemak ikan mengandung asam lemak tidak jenuh ganda yang sangat mudah mengalami proses oksidasi atau hidrolisis yang menghasilkan bau tengik.

4. Ikan mempunyai susunan jaringan sel yang lebih longgar, sehingga mikroba dapat dengan mudah mengggunakannya sebagai media pertumbuhan.

Sifat ikan yang sangat mudah rusak ini akan diperberat lagi oleh kondisi penanganan pascapanen yang kurang baik. Kerusakan mekanis dapat terjadi akibat benturan selama penangkapan, pengangkutan, dan persiapan sebelum pengolahan.

Gejala yang timbul akibat kerusakan mekanis ini antara lain memar (karena tertindih atau tertekan), sobek, atau terpotong. Kerusakan mekanis pada ikan ini tidak berpengaruh nyata terhadap nilai gizinya, tetapi cukup berpengaruh terhadap penampilan dan penerimaan konsumen.

Pada dasarnya penanganan dan pengolahan ikan bertujuan untuk mencegah kerusakan atau pembusukan. Upaya untuk memperpanjang daya tahan simpan ikan segar adalah melalui penyimpanan dalam lemari pendingin atau pembeku, yang mampu menghambat aktivitas mikroba atau enzim. Setiap penurunan suhu 8oC menyebabkan kecepatan reaksi metabolisme berkurang menjadi kira-kira setengahnya.

Oleh karena itu, makin rendah suhu penyimpanan ikan, makin panjang daya simpannya. Penyimpanan dingin dalam lemari es (refrigerator) hanya mampu memperpanjang umur simpan ikan hingga beberapa hari, sedangkan dalam lemari pembeku (freezer) akan membuat awet hingga berbulan-bulan, tergantung suhu yang digunakan.

Penyimpanan pada suhu rendah (pendinginan dan pembekuan) tidak dapat membunuh semua mikroorganisme, tetapi menghambat pertumbuhannya. Oleh karena itu, ikan yang akan disimpan pada suhu rendah harus dibersihkan terlebih dahulu untuk mengurangi jumlah mikroorganisme awal yang ada pada bahan tersebut.

Proses pembersihan tersebut dikenal dengan istilah penyiangan, yaitu pembuangan bagian kulit, insang, dan bagian dalam ikan (jeroan). Bagian-bagian tersebut perlu dibuang karena merupakan sumber utama mikroba pembusuk pada penyimpanan ikan.*** (Prof. DR. Ir. Made Astawan, MS, Dosen Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi, IPB)

http://www.senior.co.id/kesehatan/news/senior/gizi/0307/04/gizi.htm